Minggu, 05 Desember 2010

PEMBUNUHAN GURU DAN PEMBANTU DI PURWOREJO

Tersangka Bacok Korban Membabi Buta

PURWOREJO- Andriawan (22) tersangka kasus pembunuhan di rumah guru, Agnes Sri Haryati (50), warga RT 2, RW 4, Desa Boro Kulon, Kecamatan Banyuurip, Purworejo, tergolong sadis. Warga RT 1, RW 4, Boro Kulon, Banyuurip, ini membacok korban dengan membabi buta.
Berdasarkan hasil penyidikan polisi, tersangka masuk rumah korban melalui atap terbuka di ruang mencuci. Dari ruang itu, dia memanjat dinding tembok untuk masuk rumah. Namun,  dia terpeleset dan jatuh ke kamar pembantu Sri Undari (32).
Keruan saja, pembantu tersebut berteriak-teriak ketakutan. Tahu hal itu, tersangka langsung membacok korban secara membabi buta. ''Di tubuh pembantu, ada belasan luka bacok dan salah satu ibu jarinya putus,'' tutur seorang polisi, kemarin.
Hal yang sama juga dialami pemilik rumah, Agnes Sri Haryati. Mendengar ada kegaduhan di rumahnya, guru Agama Katolik itu pun terbangun dan menyapa pembantu. Tak lama berselang tersangka menyerang Agnes dengan menghunus  bendo (pisau besar-Red). ''Pelaku tergolong sadis. Dia menceritakan perbuatannya apa adanya,'' tutur sumber di kepolisian.
Setelah menghabisi dua penghuni rumah, tersangka mengambil uang yang jumlahnya hanya beberapa ratus ribu rupiah. Selain itu membawa empat buah telepon selular (ponsel) milik Agnes. Juga menggondol beberapa voucher pulsa dari rumah korban.

Membacok Suratman
Dalam pengakuannya kepada aparat, tersangka keluar melalui pintu depan. Ketika berjalan pulang ke rumahnya yang hanya berseberangan jalan dengan rumah korban, tetangganya, Suratman, tengah duduk di dekat pos Polantas. Suratman pun berusaha menyapa tersangka. ''Soko ngendi, kok kowe suwe ora ketok (dari mana, kamu kok lama tidak terlihat),'' tanya Suratman.
Mendapat pertanyaan itu tersangka tidak begitu menghiraukan, dan langsung berjalan menuju rumahnya di dekat Pos Polantas Donbosco. Namun ternyata dia berjalan memutar untuk menghampiri Suratman dan langsung membacok Suratman. ''Kemungkinan karena khawatir ketahuan sehabis membunuh,'' tutur polisi.
Setelah membacok Suratman, tersangka masuk rumahnya. Kausnya yang berlumuran darah langsung dimasukkan septick tank. Uang hasil kejahatan disimpan di meja, sedangkan ponsel disimpan di lemari kamar. Namun karena tindakannya membacok Suratman dilaporkan polisi, malam itu juga tersangka ditahan polisi. (yon-15)
 sumber: cyber Suara Merdeka

Rabu, 01 Desember 2010

PUSAT TEMBAKAU PURWOREJO

Purworejo adalah Kabupaten yang berada di sebelah barat kota Wates Kulonprogo (30km dari Kota Wates). Lokasinya yang dekat dengan aliran sungai Bogowonto membuat daerah sepanjang sungai menjadi sangat subur karena endapan tanah Aluvial yang mengandung banyak unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Lahan pertanian di wilayah Purworejo di bagi menjadi 2 jenis lahan:
1. Lahan kering(tegalan)
Tanah tegalan adalah tanah lahan pertanian yang selalu kering dan tidak tergenang air walaupun musim penghujan. Dilahan ini cocok untuk ditanami tanaman seperti Cabe, Jagung, Tembakau, padi gogo, kacang tanah, ketela, sayur-mayur dll. Lahan kering ini biasanya berada di sepanjang aliran sungai Bogowonto yang meliputi Desa Cangkrep, Desa Kemanukan, Desa Clapar, Desa Karang mulyo, Desa Kalirejo, Desa Ketangi, Desa Bagelen, Desa Jenar Wetan, Desa Gediren, Desa Bubutan, Desa Sidorejo, Desa Kebonsari, Desa Bapangsari, Desa Banjar sari, Desa Karang sari dan Desa Congot(pantai congot). Dari beberapa desa yang ada di sepanjang aliran sungai Bogowonto tersebut hanya Desa Ketangi yang memproduksi Tembakau Lintingan dalam skala Sangat Besar. Banyak pemburu tembakau yang berasal dari luar kota singgah ke Desa Ketangi untuk membeli tembakau warga dengan maksud dijual lagi ke daerah luar Purworejo dengan harga yang lebih tinggi lagi. Untuk masa Panen, harga dari petani berkisar antara 30ribu /d 40ribu per kilonya. Sedangkan pengepul biasanya menjual dengan selisih harga lebih mahal 5ribu perkilonya. Untuk informasi kerjasama atau penjelasannya silahkan hubungi: 085729043806 atas nama Bp.Mastuti Wijaya.
Hasil pertanian lahan kering lainnya adalah jagung dan cabe merah keriting juga dalam skala sangat besar. Untuk cabe merah keriting ada 2 varietas yang di tanam petani yaitu jenis TM999 dan jenis Balado dimana selisih harga lebih unggul TM999 antara 1.000,- s/d 3.000,- per kilonya. Untuk informasi kerjasama atau penjelasannya silahkan hubungi: 085729043806 atas nama Bp.Mastuti Wijaya.

2. Lahan basah(persawahan)
Lahan persawahan tidak asing lagi bagi kita yaitu tempat menanam padi yang lokasinya tersebar merata di masing-masing daerah di wilayah Purworejo. Produk yang dihasilkan dari persawahan Purworejo adalah padi dengan Verietas IR64, Rojo Lele, sebagian Ketan, Pandan Wangi, Mentik, Cisadane. Untuk harga standar jawa karena area persawahan tersebar di seluruh pulau jawa.

bila anda ingin menjalin kerjasama di bidang pertanian terutama komoditi yang kira-kira menguntungkan jika dijual lagi di daerah anda, silahkan PM kami di nomor: 085729043806 atas nama Bp.Mastuti Wijaya